Jumat, 11 November 2011

Membunuh Karena Video Game dan Film Porno

Kecanduan Video Game dan Film Porno - Jakarta, berita kriminal kali ini mengenai pembunuhan oleh seseorang karena Kecanduan Video Game dan Film Porno. Rahmat Awiwi alias R (26), pembunuh sadis terhadap Ertati (35) dan putrinya Eryanti (5) di sebuah rumah kontrakan di kawasan di kawasan Sukapura, Jakarta Utara pada Kamis (13/10) lalu ternyata membuat polisi harus melakukan tes kejiwaan .


Setelah diteliti, Rahmat memiliki potensi berperilaku kasar dan memiliki hasrat seksual tinggi akibat kecanduan terhadap video game dan film porno.

"Dia sadar apa yang dia lakukan, dia bisa berkomunikasi dengan baik dan mengerti ruang spasial," ungkap Kabag Psikolog Biro Sumber Daya Manusia Polda Metro Jaya, AKBP Arif Nurcahyo, Rabu (2/11). Hasil pemeriksaan tim psikolog Polda Metro Jaya, Rahmat secara keseluruhan normal.

Meski normal, katanya, Rahmat memiliki dunia sendiri yang dia dapatkan dari pengalaman di dunia maya sejak kecil. "Dari kecil dia sudah kecanduan video game, semakin besar seiring perkembangan teknologi dia mulaimengenal video porno," tutur Arif.

Arif menjelaskan, dunia maya itu memberikan kesenangan bagi Rahmat ketika dewasa dan mengenal Ertati ia mencoba mewujudkan dalam dunia nyata. "Dia sudah kecanduan video porno, sampai tidak tahan kalau sehari saja dia nggak nonton. Dia pun melakukan pengalamannya pertama dengan korban," tuturnya.

Namun, katanya, Rahmat tidak siap dengan tanggung jawab yang harus diembannya ketika melakukan hubungan intim. Dia hanya menjiplak apa yang ia lihat di dalam video porno.

"Jadi saat Ertati meminta tanggung jawab anak hasil hubungan gelapnya, dia tidak siap," ucapnya.

Untuk menyelesaikan masalah dengan Hertati, Rahmat pun berpikiran pendek. "Dia pokoknya nggak punya pikiran panjang dalam menyelesaikan masalah. Dari video game itu dia belajar kekerasan dan bisa sampai membunuh korban dan anaknya sampai tewas," tutur Nurcahyo.

Pengaruh video game dan film porno ini diakui Arif memang berada di bawah alam sadar Rahmat. Video game dan film porno ini mampu membentuk karakter seseorang. Terlebih Rahmat juga tidak memiliki tuntunan yang baik dari kedua orang tuanya sejak kecil.

Sejak masih duduk di kelas 2 SD di Lampung, Rahmat hidup bersama ayahnya yang nelayan dan sering pergi bekerja di Makassar Sulawesi Selatan. Sementara ibunya meninggalkan ayah Rahmat untuk menikah lagi dengan pria lain di Jakarta.

"Dia ini tidak memiliki sejarah kekerasan dan perilaku seksual menyimpang selama hidupnya. Hanya keluarga yang broken home membuat dia tidak mendapat norma-norma sosial yang bisa dijadikan pegang dia sampai dewasa," katanya lagi.

Selama pemeriksaan, katanya, Rahmat juga tampak tenang. Tidak ada raut penyesalan di mukanya. "Secara verbal dia memang mengaku menyesal, tapi tidak ditunjukkan dari sikapnya selama pemeriksaan," tuturnya.

Berdasarkan pengakuan Rahmat, pria itu mengungkapkan bahwa usai membunuh korban dan anak korban, rasa takut lebih kuat daripada penyesalan kehilangan orang yang disayanginya. "Nggak ada menyesal, dia bilang hanya takut ketahuan makanya mayat itu dibuang di tempat terpisah," ujarnya.

Seperti telah diberitakan, Rahmat Awiwi alias R (26) dan Krisbayudi alias K (26) dibekuk di tempat kerjanya di perusahaan Jok Mobil "PJ" di Sunter Jakarta Barat setelah membunuh kekasihnya Ertati (35) dan putrinya Eryanti (5), Kamis (13/10) malam.

Untuk menghilankan jejak, mayat Ertanti dimasukan kedalam kardus TV dan dibuang di Koja Jakarta Utara, dan ditemukan warga pada Jumat (14/10/2011). Sedangkan Eryanti (5) dihabisi pelaku karena melihat ibunya dibunuh. Sebelum dibuang, pelaku membakarnya dan memasukan ke dalam koper dan dibuang di Jalan Cacing, Cakung, Jakarta Timur, ditemukan warga pada Sabtu (15/10).

Sumber: portalkriminal

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Info Wanita | Lirik Lagu Indonesia